Technology-Mediated Social Arrangements to Resolve Breakdowns in Infrastructure During Ongoing Disruption

Penulis : Bryan Semaan dan Gloria Mark

University of California Irvine, Irvine

URL : http://dx.doi.org/10.1145/2063231.2063235

When societies experience disruption as caused by natural disasters, various official government agencies, relief organizations, and emergent citizen groups engage in activities that aid in the recovery effort—the process that leads to the resumption of normal life. In war environments however, societal trust can be affected and people may develop distrust of the institutions and associated individuals that provide and resolve breakdowns in infrastructure. This article reports on an ethnographic study of the use of information and communication technologies (ICTs) by citizens experiencing ongoing disruption in a conflict zone. We conducted 90 semistructured interviews with Iraqi civilians who experienced the 2nd Gulf War beginning in March 2003. We show how citizens used ICTs to continuously resolve breakdowns in infrastructure during ongoing disruption caused by the conflict, by creating new, reliable technology-mediated social arrangements that enabled people to maintain daily routines for travel, education, and obtaining information. We then discuss new ways to think about infrastructure and implications for the disaster relief effort.

Pengkaji : Agung Kurniawan (G64120013)

Bencana Alam dan perang dapat menyebabkan rusaknya atau terganggunya infrastruktur fisik, teknik, pendidikan, transportasi dan lainnya. Saat bencana terjadi, masyarakat membutuhkan informasi yang dapat diandalkan dan dapat dipercaya untuk melakukan tindakan tepat. Namun karena terkendala infrastruktur, sering kali informasi yang diberikan oleh saluran resmi seperti pemerintah terlalu terlambat atau sudah tidak berlaku. Hal ini dapat mempengaruhi kepercayaan masyarakat.

Saat bencana atau perang terjadi, masyarakat dapat menggunakan ICT (Information and Communication Technology). ICT dapat memberikan pilihan kepada masyarakat mengenai bagaimana menanggapi bencana, bagaimana menemukan dan memberikan informasi, serta untuk memelihara situasi. Masyarakat tidak dapat bergantung pada orang lain dan institusi untuk mengelola infrastuktur yang rusak. Masyarakat harus berinisiatif untuk mengatasi kerusakan dan membuat sendiri infrasruktur yang dapat digunakan sebagai bagian dari proses pemulihan dari krisis yang sedang berlangsung.

Pada artikel ini penulis tertarik pada bagaimana masyarakat menggunakan ICT untuk dapat menggunakan infrastruktur yang rusak, serta bagaimana masyarakat sembuh dari krisis dalam lingkungan dimana kepercayaan masyarakat telah terkikis. Sehingga artikel ini membahas bagaimana ICT dimediasi pada perkembangan tatanan sosial baru berdasarkan jaringan yang terpercaya.

Penulis melakukan penelitian ini dengan mewawancarai masyarakat Irak yang mengalami gangguan pada kehidupan sehari-hari mereka akibat perang Gulf War kedua yang dimulai pada maret 2003. Gangguan pertama yang dirasakan oleh masyarakat irak adalah rusaknya infrasrtuktur transportasi. Sebelum perang terjadi, infrastruktur transportasi mudah dan aman untuk digunakan. Salah satunya adalah bus. Namun, setelah perang berlangsung alat transportasi menjadi tidak aman untuk digunakan, karena sering terjadinya ledakan bom. Gangguan kedua adalah rusaknya sarana pendidikan. Infrastruktur pendidikan banyak yang dicuri, dan 84% dari institusi pendidikan dibakar dan dihancurkan. Gangguan ketiga adalah kerusakan infrastruktur informasi. Saat perang berlangsung masyarakat Iraq sulit untuk menentukan informasi mana yang dapat dipercaya. Sehingga dengan kerusakan infrastruktur maka terjadi penurunan kepercayaan antar masyarakat irak.

Masyarakat irak mengatasi gangguan mereka dengan menggunakan ICT. ICT contohnya ponsel dan Facebook dapat membuat pengaturan sosial antar masyarakat dalam jaringan sosial yang mereka percayai sehingga dengan penggunaan ini, infrastruktur informasi yang rusak dan ketidakpercayaan masyarakat bisa kembali normal. ICT yang digunakan selama perang tidak selalu dapat bekerja. ICT membutuhkan listrik, apabila infrastruktur listrik mengalami kerusakan maka komunikasi tidak dapat dilakukan. Untuk mengatasi masalah tersebut, masyarakat irak memasang generator listrik di rumah mereka untuk menjaga agar alat komunikasi mereka tetap bekerja.

Peran ICT dalam menyelesaikan kerusakan infrastruktur transportasi dengan memberikan informasi kepada masyarakat irak mengenai apakah melakukan perjalanan ke daerah-daerah tertentu aman atau tidak. Masyarakat terlibat dalam praktek kolaboratif baru untuk mencari informasi perjalanan dengan menggunakan ponsel, e-mail, pesan instan, atau dengan membaca status update teman Facebook mereka. Mereka menggunakan ICT untuk menghubungi jaringan social (keluarga dan teman) dilokasi bepergian mereka untuk menanyakan tentang situasi local. Selain itu muncul jaringan transportasi pribadi. Masyarakat irak memiliki masing-masing penyedia transportasi seperti taxi atau supir yang sudah dipercaya.

Peran ICT dalam menyelesaikan kerusakan infrastruktur informasi dengan menyediakan informasi melalui media satelit dan internet. Masyarakat menginginkan untuk selalu mendapatkan informasi yang up to date. Informasi yang berasal dari jaringan kelompok sosial yang kuat maka dapat dipercaya dan dapat divalidasi.

Peran ICT dalam menyelesaikan kerusakan infrastruktur pendidikan dengan menyediakan sumber pembelajaran yang terbaru. Selain itu ICT menyediakan pendidikan secara online apabila siswa tidak dapat datang kesekolah karena merasa tidak aman.

Dari pengkajian diatas dapat disimpulkan bahwa penggunaan teknologi ICT dapat menjadi mediator untuk masyarakat dalam menangani atau bertindak pada situasi bencana atau perang. Penggunaan ini memiliki implikasi munculnya suatu tatanan sosial baru dan lama dalam masyarakat untuk membantu dalam perbaikan infrastruktur yang rusak.

Error Prevention – pertanian.go.id

Error Prevention adalah pencegahan kesalahan, artinya sistem harusnya memberikan suatu interaksi pencegahan kepada user ketika melakukan kesalahan dalam sistem sehingga user dapat berhati-hati dalam melakukan tindakan lanjutan.


Tidak ada keterangan field yang harus diisi.

5a

Saat pengguna akan menggunakaan fitur pengaduan mengenai kementrian pertanian, pengguna terlebih dahulu melakukan registrasi. Pada field isian, tidak terdapat keterangan field mana yang harus diisi atau yang dapat dikosongkan. Keterangan field yng harus diisi biasnya menggunakan tanda ” * “. Karena tidak ada, maka saya mencoba untuk mengosongkan password. Ternyata umpan balik yang diberikan seperti gambar ini.

5c

Menurut saya, keterngan field yang harus diisi perlu ditambahkan, agar error dapat dicegah.


Pengecekan tidak dilakukan secara real-time.

5b

Setelah registrasi berhasil, saya mencoba untuk ubah password. saya mengetikkan password baru lalu saya mengetikkan retype password dengan kata yang berbeda. Ternyata setelah saya submit password berhasil diupdate. Saya menjadi sedikit bingung. Jadi retype password untuk apa apabila password tetap berhasil diubah.

Menurut saya harus ada keterangan bahwa pengetikan password harus sama dan ada suatu mekanisme untuk mengetahui apakah password yang diketikkan sama atau berbeda. Sehingga kesalahan pengguna dapat dicegah.


Severity Rating yang saya berikan adalah 2. Menurut saya hal tersebut temasuk masalah usability minor dan memiliki prioritas yang rendah untuk diperbaiki.

 

 

Aesthetic and Minimalist Design – pertanian.go.id

Aesthetic and Minimalist Design membahas sistem hanya menghasilkan informasi yang relevan, informasi yang tidak relevan mengurangi visibilitas dan usability dari sistem.


Hasil pencarian ditampilkan pada satu halaman.

4a 4b

Hasil pencarian dengan kata kunci “pertanian” memiliki jumlah hasil yang banyak, namun semua hasil tersebut ditampilkan pada satu halaman.

Menurut saya untuk hasil pencarian yang banyak harus ditambahkan fitur pagination agar pengguna tidak perlu terus-menerus melakukan scroll. 


Tampilan terlalu minimalist.

2b

Tampilan halaman alamat pejabat terlalu minimalist. Konten yang ditampilkan hanya berupa tulisan tanpa page border yang jelas, sehingga terlihat membosankan dan tidak interaktif.

Menurut saya tampilan pada gambar diatas sangat kurang nilai estetikanya, dan terlalu simple. Sehingga perlu dibuat desain yang menarik dengan penambahan warna serta dengan membentuk panel konten yang jelas


Severity Rating yang saya berikan adalah 1. Menurut saya hal tersebut hanya temasuk masalah Cosmetic problem sehingga apabila diperbaiki maka akan semakin baik.

Flexibility and Efficiency – pertanian.go.id

Fleksibilitas dan efisiensi membahas apakah sistem dapat mengakomodasi pengguna yang ahli, pengguna yang masih pemula, maupun pengguna yang memiliki keterbatasan.

Hal yang ditemukan adalah


Hanya memiliki satu jalur akses pada halaman web tertentu.

3c

Saya mencoba untuk melihat galeri foto mengenai kegiatan kementrian pertanian. Link galeri foto tersebut terdapat di halaman beranda.

3b

Halaman gallery foto hanya ditemukan melalui link “Photo lainnya” yang berada di beranda, sehingga apabila pengguna ingin melihat galeri foto, pengguna harus mengakses halaman beranda terlebih dahulu. Hal tersebut tidak fleksibel dan mengurangi efisiensi waktu pengguna.

Menurut saya, lebih baik ditambahkan link dibagian menu untuk galeri kegiatan, karena informasi tersebut cukup menarik.


Halaman web tidak responsif

3a

Halaman web tidak responsif, sehingga fleksibilitas pengguna cukup tergannggu untuk berpindah atau memilih menu yang disediakan.

Menurut saya halaman web lebih baik responsif, karena sekarang ini ukuran layar perangkat teknologi cukup beragam, sehingga tampilan yang menyesuaikan ukuran layar akan lebih nyaman untuk dilihat.


Severity Rating yang saya berikan adalah 1. Menurut saya hal tersebut hanya temasuk masalah Cosmetic problem sehingga apabila diperbaiki maka akan semakin baik.

 

Consistency and Standards – pertanian.go.id

Pengguna tidak perlu mempertanyakan lagi mengenai perbedaan pemahaman pada sebuah kata dan kalimat, situasi dan aksi. Semua harus sudah mengikuti standar.

Hal yang harus diperhatikan adalah


Perbedaan format tampilan halaman pada menu yang sama.

2a

Saya mencoba untuk melihat profil Departemen Pertanian. Saya memilih sub menu Kantor Atase. Kemudian muncul tabel Atase, Nama Pejabatan, Alamat Kantor dan Telepon.

2bSelanjutnya saya memilih Nama/Alamat Pejabat. Pada tab yang sama, halaman berpindah ke halaman dengan format yang berbeda. Halaman hanya dengan background putih dengan pilihan Kementrian.

Hal tersebut dapat menggangu pengguna dan menimbulkan pertanyaan “Benar tidak isi halaman ini?, ko’ berbeda fromat tampilannya dari halaman sebelumnya”. Selain itu Ketidakkonsistenan ini dapat menghambat mobilitas pengguna untuk berpindah ke halaman lainnya, karena tidak tersedianya menu navigasi.

Saran yang dapat saya berikan adalah membuat template default untuk setiap halaman yang berada pada domain pertanian.go.id. Hal tersebut selain tidak membuat ragu bagi pengguna, tampilannya pun akan lebih menarik.


Penyusunan bentuk link yang tidak konsisten.

2c

Pada bagian header halaman situs, terdapat beberapa link yang ditampilkan. Terlihat pada gambar diatas secara keseluruhan terdapat 8 link. Namun, link forum Diskusi, Forum Petani, dan Kuisioner digabung dalam satu baris secara horizontal. Hal tersebut terlihat kurang cocok, karena link tersebut terlihat berbeda dibanding dengan link lainnya dalam kelompok tersebut.

Menurut saya akan lebih baik apabila link tersebut memiliki format yang sama karena berada dalam satu kelompok.


Penulisan nama link yang tidak konsisten.

2d

Pada halaman beranda dibagian bawah terdapat galeri yang menampilkan foto dan video pada tab yang berbeda. Tab kiri menampilkan foto, dan tab kanan menampilkan video. Saat memilih tab video, pada bagian bawah terdapat link “Photo Lainnya”. Hal tersebut tidak konsisten, mengingat pengguna telah memilih tab video bukan foto.


Severity Rating yang saya berikan adalah 2. Menurut saya hal tersebut temasuk masalah usability minor dan memiliki prioritas yang rendah untuk diperbaiki.